Lebih Hina dari Anjing, Keledai, dan Babi? Ceramah Ustad Dr. Elsanra Eka Putra di Masjid Taqwa Ini Bikin Jemaah Tersentak!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG –Suasana Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat di kawasan Padang, Ahad malam itu, terasa berbeda. Jemaah yang memenuhi saf demi saf tampak khusyuk, namun sesekali helaan napas panjang terdengar di sela-sela lantunan ayat suci. Mereka sedang menyimak tausiah Ramadhan yang disampaikan oleh Ustad Dr. Elsanra Eka Putra, yang kali ini mengangkat tema yang cukup menghentak: perumpamaan manusia yang mendustakan ayat-ayat Allah.

Dengan suara berat namun bersahaja, ustad yang dikenal dengan dalil-dalil kuatnya itu membuka pembahasan dari QS. At-Tin ayat 4. Ia menjelaskan betapa Allah telah memuliakan manusia dengan menciptakannya dalam bentuk sebaik-baiknya, ahsani taqwim.

“Kita ini makhluk paling sempurna, saudaraku. Fisik kita bagus, otak kita cerdas, hati kita diberi fitrah untuk mengenal Tuhan. Tapi… pernahkah kita membayangkan, kalau kesempurnaan ini kita gunakan untuk mendustakan ayat-ayat Allah, apa jadinya?” ucapnya membuka pertanyaan besar di hati jemaah.

Perumpamaan Pertama: Lebih Rendah dari Anjing

Ustad Eka lalu mengajak jemaat membuka QS. Al-A’raf ayat 176. Ia menggambarkan bagaimana Allah memberikan perumpamaan yang sangat dalam tentang seorang yang diberi ilmu ayat-ayat Allah, tapi justru melepaskan diri darinya karena cinta dunia dan mengikuti hawa nafsu .

“Allah berfirman, fa matsaluhû kamatsalil-kalb, maka perumpamaannya seperti anjing,” katanya tegas.

Seketika jemaah saling berpandangan. Ustad Eka melanjutkan, “Allah jelaskan, in taḫmil ‘alaihi yal-hats au tatruk-hu yal-hats, jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya juga . Artinya apa? Ia selalu dalam keadaan tamak, rakus, dan gelisah. Nafsu duniawinya tak pernah puas. Itulah gambaran orang yang cenderung pada dunia dan mendustakan ayat-ayat Kami,” kutipnya dengan suara lantang .

Ustad Eka menambahkan bahwa dalam kajian para ulama, kata kalb (anjing) dalam ayat ini mengandung makna sifat-sifat buruk seperti sulit meninggalkan kebiasaan buruk, tidak punya rasa malu, dan mudah dihasut . Suasana masjid semakin sunyi. Beberapa jemaat terlihat menunduk dalam.

Tantangan bagi yang Mengaku Kekasih Allah

Namun ustad Eka belum berhenti di situ. Ia kemudian beralih ke QS. Al-Jumu’ah ayat 6, yang memberikan peringatan keras bagi mereka yang mengaku istimewa di sisi Allah tapi mendustakan ayat-ayat-Nya.

“Simak firman Allah dalam surat Al-Jumu’ah ayat 6,” ujar Ustad Eka membuka mushaf.

Qul yā ayyuhal-lażīna hādū in za’amtum annakum auliyā’u lillāhi min dūnin-nāsi fa tamannawul-mauta in kuntum ṣādiqīn .

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai orang-orang Yahudi, jika kamu mengira bahwa kamulah kekasih Allah, bukan orang lain, harapkanlah kematianmu, jika kamu orang-orang benar'” .

“Subhanallah,” ucap Ustad Eka dengan nada menggeleng. “Mereka mengaku kekasih Allah, mengaku istimewa, tapi mendustakan ayat-ayat Allah yang diturunkan melalui Nabi Muhammad. Maka Allah tantang mereka: kalau benar kalau kekasih Allah, kenapa takut mati? Kenapa tidak segera mengharap kematian untuk bertemu dengan kekasihmu?” .

Jemaat kembali tersentak. Tantangan ini, menurut penjelasan ustad, menunjukkan bahwa pengakuan iman harus dibuktikan dengan kejujuran. Mereka yang mengaku beriman tapi mendustakan ayat-ayat Allah sejatinya adalah pendusta .

Perumpamaan Paling Menggetarkan: Seperti Binatang Ternak, Bahkan Lebih Sesat

Puncak tausiah tiba ketika Ustad Eka membacakan QS. Al-A’raf ayat 179. Suaranya bergetar saat melantunkan ayat tersebut:

Wa laqad dzara’nā lijahannama katsīran minal-jinni wal-insi, lahum qulụbul lā yafqahụna bihā, wa lahum a’yunul lā yubṣirụna bihā, wa lahum ādzānul lā yasma’ụna bihā, ulāika kal-an’āmi bal hum aḍall, ulāika humul-gāfilụn .

Artinya: “Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka memiliki telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” .

Jemaat terhenyak. Ustad Eka menjelaskan dengan nada memperingatkan, “Saudaraku, binatang ternak itu kalau diberi makan, dia makan. Kalau tidak diberi, dia diam. Tapi manusia yang mendustakan ayat Allah, diberikan akal tidak digunakan, diberikan ayat tidak dipahami, diberikan peringatan tidak diindahkan. Mereka lebih buruk dari binatang ternak! Karena binatang ternak tidak diberi akal, tapi manusia diberi akal justru mengingkari Tuhannya!” .

Ia melanjutkan dengan contoh-contoh konkret. “Binatang kalau masuk ke kebun orang, paling hanya memakan daun secukupnya, kalau kenyang berhenti. Tapi manusia yang sesat, masuk ke kebun orang, tidak hanya mengambil daun, tapi juga singkongnya. Bahkan jika perlu, pemiliknya dibunuh untuk menghilangkan jejak . Itulah manusia yang lebih sesat dari binatang ternak!”

Menggali Lebih Dalam: Kebiasaan Mengubah Firman Allah

Ustad Eka kemudian menambahkan satu ayat lagi yang memperkuat pembahasan, yakni QS. Al-Baqarah ayat 75. Ayat ini, menurutnya, menunjukkan akar permasalahan dari sikap mendustakan ayat-ayat Allah yang sudah terjadi sejak lama.

“Allah berfirman, Afathma’ụna ay yu’minụ lakum wa qad kāna farīqum min-hum yasma’ụna kalāmallāhi ṡumma yuḥarrifụnahụ mim ba’di mā ‘aqalụhu wa hum ya’lamụn,” bacanya dengan tartil.

Artinya: “Maka, apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, sedang mereka mengetahui?”

Ustad Eka menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai pengingat bagi Nabi Muhammad dan kaum muslimin agar tidak terlalu berharap orang-orang Yahudi akan beriman. Mengapa? Karena nenek moyang mereka dulu, para pendeta Yahudi, sudah memiliki kebiasaan buruk: mereka mendengar firman Allah dalam Taurat, memahaminya dengan baik, tetapi kemudian dengan sengaja mengubahnya.

“Ini yang lebih berbahaya, saudara-saudara,” tegas Ustad Eka. “Mereka bukan orang bodoh. Mereka paham betul firman Allah. Tapi karena kepentingan dunia, karena ingin pengikutnya tidak percaya kepada Nabi Muhammad, mereka putar balikkan maknanya. Mereka ubah lafadznya, atau mereka tafsirkan sekehendak hatinya.”

Jemaah menghela napas panjang. Ada yang menggeleng-geleng kepala.

“Bayangkan,” lanjut Ustad Eka, “firman Allah yang suci, yang seharusnya jadi petunjuk, justru dikhianati oleh orang yang memahaminya. Mereka lebih memilih kepentingan sesaat daripada kebenaran. Na’udzubillah…”

Renungan di Bulan Suci Ramadhan

Di akhir tausiah, Ustad Eka berpesan dengan nada melembut. “Saudaraku, Allah sudah ciptakan kita sempurna dalam bentuk sebaik-baiknya. Jangan biarkan kesempurnaan itu ternoda dengan mendustakan ayat-ayat-Nya. Jangan sampai kita lebih rendah dari anjing yang rakus, jangan sampai kita seperti mereka yang mengaku kekasih Allah tapi takut pada kematian karena hati penuh dosa, dan yang paling mengerikan: jangan sampai kita seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat, karena memiliki hati, mata, telinga tapi tidak digunakan untuk memahami, melihat, dan mendengar ayat-ayat Allah.”

Ia mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. “Mari jadikan Ramadhan ini momentum untuk tidak hanya membaca, tapi juga merenung, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang lengah, ghāfilūn, sebagaimana disebut dalam penutup ayat 179 surat Al-A’raf tadi.”

Jemaat yang semula tegang perlahan menghela napas lega, namun hati mereka jelas terusik. Tausiah singkat itu seperti cermin yang didekatkan ke wajah, menampakkan siapa diri mereka sebenarnya di hadapan ayat-ayat suci.

Usai salat Isya dan tarawih, wajah-wajah jemaat tampak lebih tenang, namun menyisakan satu pertanyaan di benak masing-masing: Sudahkah aku benar-benar menggunakan hati, mata, dan telinga ini untuk memahami ayat-ayat Allah, ataukah aku justru termasuk orang-orang yang lebih sesat dari binatang ternak?

Related posts