Petisi dan Doa di Tengah Kobaran Demo

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, FEATURE — Malam itu, Jakarta bergetar. Jumat, 29 Agustus, langit ibu kota berwarna merah menyala, bukan karena senja yang indah, melainkan kobaran api dan amarah yang menyalakan jalan-jalan. Asap mengepul dari ban terbakar, suara sirene bergema bercampur dengan pekikan massa yang menuntut keadilan atas kematian seorang pemuda bernama Affan Kurniawan.
Affan bukan pejabat, bukan tokoh politik, bahkan bukan nama besar. Ia hanyalah seorang pengemudi ojek online, 21 tahun usianya. Hidupnya berakhir di tengah kerumunan, ketika tubuhnya ditabrak lalu dilindas kendaraan taktis Brimob dalam kericuhan demo malam Kamis itu. Sejenak, waktu berhenti bagi keluarga yang kehilangan tulang punggung, dan bagi ribuan pengemudi lain yang merasa satu darah dengan Affan.
Kematian itu seperti memantik api. Dari Jakarta hingga Makassar, dari Medan hingga Surabaya, massa turun ke jalan. Spanduk-spanduk menjeritkan kata-kata keadilan, sementara media sosial menjadi ruang gema tempat amarah dan dukacita berlipat ganda.
Tetapi di sela dentum gas air mata dan letusan suara peluru karet, ada suara lain yang muncul—suara yang tak lantang, tapi menusuk jauh ke dalam hati: doa dan seruan dari para pemuka agama.

Petisi Keprihatinan: Seruan dari Nurani
Di sebuah ruang sederhana, sekelompok rohaniwan lintas iman duduk melingkar. Mereka menulis sebuah teks bersama, yang kemudian mereka sebut sebagai “Petisi Keprihatinan Kebangsaan.”
Bahasanya lirih tapi tegas. “Keprihatinan rakyat itu seharusnya juga menjadi bagian dari empati agama,” tulis mereka, “karena iman bukanlah ruang sunyi yang tercerabut dari realitas.”
Mereka mengingatkan tentang ukhuwah kebangsaan—persaudaraan lintas iman, lintas kelas, lintas kepentingan—yang sedang robek oleh kerakusan dan kepongahan para penguasa. Kata-kata mereka menohok: “Pertobatan harus lahir dari para pimpinan bangsa yang lupa menyejahterakan rakyat, tetapi sibuk berpesta pora dalam kekuasaan, tenggelam dalam Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.”
Di situ juga ada teguran bagi para buzzer, politisi, bahkan rohaniwan yang kehilangan kompas moral. “Kembalilah ke nurani,” tulis mereka, “jangan ikut-ikutan membenarkan yang salah, atau menyalahkan yang benar.”
Petisi itu bukan sekadar rangkaian kalimat. Ia terdengar seperti doa yang dibisikkan di tengah kobaran api, doa agar bangsa ini tidak kehilangan akal sehatnya.

Suara dari Minangkabau
Di Padang, seorang ulama karismatik angkat bicara. Buya Gusrizal, Ketua Umum MUI Sumatera Barat, memilih kata-katanya dengan hati-hati tapi tetap tegas.
“Demo adalah hak warga negara,” katanya, “tetapi ketika sudah menimbulkan kerusakan, keresahan, dan kesulitan bagi publik, itu harus dihentikan.”
Kata-katanya sederhana, namun di baliknya ada kepedihan. Buya Gusrizal tahu betul bahwa suara rakyat tak bisa dibungkam, tapi ia juga mengingatkan bahaya jika amarah berubah menjadi bara yang melahap kehidupan sehari-hari.
Ia menyampaikan duka mendalam untuk Affan Kurniawan, seraya meminta agar aparat kepolisian tidak hanya menenangkan massa dengan gas air mata, tetapi juga mengadili anggotanya sendiri yang telah melanggar batas kemanusiaan.
Ada nada getir dalam suaranya ketika ia mengingatkan: “Jika gejolak ini terus berlanjut, kehidupan ekonomi akan lumpuh. Dan yang menanggung akibatnya bukan hanya pejabat, melainkan seluruh rakyat.”
Di Minangkabau, tanah yang dikenal dengan falsafah adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah, suara seorang ulama bisa lebih tajam daripada suara sirene.

Antara Amarah dan Doa
Di media sosial, narasi terus beradu. Ada yang menyulut amarah, ada yang menyalakan harapan. Tetapi di tengah pusaran itu, seruan para pemuka agama mencoba menawarkan jalan lain: jalan menahan diri, jalan sabar, jalan mencari keadilan lewat nurani, bukan hanya lewat teriakan.
Namun, sejarah Indonesia selalu mengingatkan: suara rakyat, betapapun kerasnya, sering lahir dari luka yang tak kunjung diobati. Affan Kurniawan mungkin hanyalah satu nama, tapi kisahnya menjelma menjadi simbol ketidakadilan yang dirasakan banyak orang.

Sebuah Pertanyaan untuk Bangsa
Apa arti sebuah bangsa jika nyawa seorang pemuda bisa hilang begitu saja di jalanan? Apa arti persaudaraan jika aparat dan rakyat saling berhadap-hadapan seperti musuh?
Di akhir petisi mereka, para rohaniwan menulis kalimat yang mungkin terdengar seperti doa, atau mungkin juga seperti peringatan: “Kami mengajak semua yang mencintai bangsa ini untuk berjalan dalam kebenaran. Kami sedih, tapi cinta kami kepada Indonesia tak akan pernah padam.”
Dan di jalan-jalan malam itu, di balik barikade kawat berduri dan api yang menjilat udara, doa itu seperti mencari jalan pulangnya.

Related posts