MINANGKABAUNEWS.com, LOMBOK — Bayangkan, bersekolah tepat di lokasi yang dulu luluh lantak akibat gempa dahsyat. Jangan khawatir, ada yang berbeda kali ini.
Lombok Utara pernah menjadi pusat neraka pada 2018. Gempa 7,0 magnitudo mengguncang, ratusan nyawa melayang, puluhan ribu rumah rata dengan tanah. Sekolah-sekolah roboh, fasilitas publik ambruk. Tapi dari puing-puing itulah, sebuah harapan baru kini berdiri.
Di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, hanya 100 meter dari bibir pantai, Sekolah Rakyat Lombok Utara tengah dibangun. Bukan sekadar sekolah biasa. Ini benteng.
Penanggung jawab proyek, Arahman, tak main-main. “Kami pakai sistem tahan gempa. Secara perhitungan, aman,” ujarnya di lokasi pembangunan, Kamis. Seluruh struktur bangunan sengaja diperkuat agar saat tanah berguncang lagi, risiko roboh dan korban jiwa bisa ditekan seminimal mungkin.
Lahan seluas 6,7 hektar disiapkan. Sebanyak 28 unit bangunan akan berdiri di atas 2,8 hektar di antaranya. Sekolah ini bukan sekadar ruang kelas. Ada asrama, lapangan basket, hingga mini soccer. Total 1.080 orang akan ditampung. Pendidikannya pun tak hanya formal, tapi juga karakter dan kemandirian.
“Pembangunan ini sebelum dilaksanakan sudah dihitung sama perencanaannya untuk tahan gempa,” tegas Arahman lagi.
Sayangnya, waktu tak berpihak pada kelambatan. Per 14 Mei 2026, progres baru mencapai 21,71 persen. Target rampung 20 Juni 2026. Tinggal sebulan lagi. Karena itu, Kementerian PU kini memacu pekerja siang-malam, menambah jumlah buruh, dan memutar otak agar sekolah tahan gempa ini benar-benar selesai tepat waktu.
Gempa mungkin tak bisa dihindari. Tapi setidaknya, ketika guncangan datang lagi, 1.080 anak di Lombok Utara punya tempat yang lebih aman.






