Mantap! Program Gegap Gempita Ini Bakal Ubah Nasib Nelayan, Targetnya 1.000 Kampung dalam Dua Tahun!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Selama ini, perdebatan soal hilirisasi perikanan selalu berputar di pasar dan industri pengolahan. Tapi Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, punya pengakuan mengejutkan: masalah sesungguhnya bukan di hilir, melainkan di hulu yang selama ini amburadul.

Dan solusinya? Sebuah program ambisius bernama Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang disebut-sebut bakal mengubah nasib nelayan lokal.

Saat menyambangi salah satu unit pengolahan ikan (UPI) di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Kamis lalu, Trenggono dengan blak-blakan mengungkapkan kegagalan sistem lama. Menurutnya, selama ini rantai pendingin, penanganan ikan, hingga kesejahteraan nelayan di hulu seringkali diabaikan. Akibatnya, kualitas produk jeblok dan industri sulit menyerap hasil tangkapan.

“Kalau kampung nelayan merah putih ini berjalan, saya jamin kualitas produknya bagus. Karena rantai penanganannya dibenahi dari awal. Industri pengolahan juga akan lebih mudah menyerap hasil tangkapan nelayan,” tegas Trenggono dalam siaran pers KKP yang dikutip di Jakarta, Jumat.

Lalu, apa bedanya KNMP dengan program sebelumnya? Trenggono menjelaskan bahwa konsepnya adalah ekosistem perikanan terintegrasi. Bukan sekadar pemukiman nelayan, melainkan klaster utuh yang menghubungkan kawasan tangkap (hulu), rantai dingin, pelabuhan perikanan, unit pengolahan, hingga pasar ekspor.

Dengan sistem ini, sejak ikan mendarat dari kapal, penanganannya langsung terjaga. Mutu terjamin, harga pun ikut melambung.

“Yang jadi soal sekarang ini bukan hilir kalau di perikanan, tapi soal pembenahan hulunya. Maka dari itu, pemerintah lagi membenahi sektor hulu melalui program KNMP,” ucapnya.

Targetnya gila-gilaan. KKP memasang angka lebih dari 1.000 kampung nelayan merah putih pada 2026 di seluruh Indonesia. Tahun 2025 ini menjadi pijakan awal dengan 100 titik. Kabar baiknya, 65 lokasi sudah rampung 100 persen.

Kepulauan Riau sendiri dipilih sebagai wilayah strategis karena karakter kepulauannya yang unik, tingginya aktivitas perikanan, serta lokasinya yang dekat dengan jalur perdagangan internasional. Beberapa lokasi KNMP yang sudah berjalan antara lain di Natuna dan Batam.

“Maka dari itu, daerah harus aktif menangkap peluang ini,” pesan Trenggono. “Program kampung nelayan merah putih ini peluang besar. Daerah harus bergerak supaya manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat nelayan.”

Dengan kata lain, jika hulu sudah kuat, bukan tidak mungkin Indonesia tak hanya sekadar ekspor ikan mentah, tapi benar-benar menguasai rantai hilirisasi perikanan dunia. Pertanyaannya sekarang: mampukah target 1.000 kampung tercapai dalam dua tahun?.

Related posts