Wakil Ketua LPSK RI Ustadz Maneger Nasution jadi khatib shalat Idul Fitri di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar

  • Whatsapp
Pelaksanaan salat Id di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Ustadz Maneger Nasution bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri 1444 Hijriah di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, Padang pada Jumat pagi.

Jamaah yang meliputi orang dewasa hingga anak-anak memenuhi masjid Muhammadiyah tersebut.

Read More

Ustadz Maneger dalam khotbahnya mengemukakan bahwa BULAN Ramadhan dapat disebut sebagai bulan audit diri (muhasabah). Audit dilakukan untuk mengetahui apa saja yang sudah atau belum dilakukan. Selain itu, audit dilakukan untuk mengukur seberapa jauh kita mampu memperbaiki diri.

Belum terlambat jika ingin mengevaluasi kesuksesan Ramadhan kita. Setidaknya ada 6 (enam) etos Ramadhan yang bisa dilakukan audit pada akhir Ramadhan dan di awal Syawal. Enam etos Ramadhan tersebut merupakan satu kesatuan kebaikan yang sejatinya dilanjutkan di luar bulan Ramadhan. Enam etos Ramadhan tersebut adalah etos puasa, etos baca al-Qur’an, etos Shalat Tarawih, etos solidaritas, etos berjemaah, dan etos imsya’.

Dengan mengaudit enam etos ini secara jujur dan benar, harapannya kita bisa merawat etos ini, apalagi kalau dapat meningkatkan, insya Allah sukseslah Ramadhannya. Dan, boleh jadi kitalah yang paling berhak menyandang gelar juara puasa, muttaqin. (Qs. al-Baqarah/2:183).

Berikut adalah enam etos Ramadhan yang perlu kita rawat dan lanjutkan untuk 11 bulan mendatang.

Pertama, etos puasa. Hari ini kita telah mengucapkan selamat tinggal Ramadhan 1444 H, dan kini kita berada di bulan Syawal 1444 H. Salah satu pemaknaan syawal adalah peningkatan.

Dalam konteks puasa, kita meningkatkan tradisi berpuasa. Kita bisa mentradisikan puasa sunat (Senin-Kamis, Puasa Daud dan lain-lain). Peningkatan jangan hanya dilihat dari kuantitasnya, tapi juga kualitasnya, semangatnya. Terus berlanjut. Tidak menurun. Dan, tidak boleh kendor.

Untuk merawat dan meningkatkan etos puasa ini, kita mulai dengan puasa sunat Syawal. Ini yang dipesankan oleh Nabi SAW: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh”. (HR Muslim).

Kedua, etos baca al-Qur’an. Selama Ramadhan umat Islam sangat bersemangat membaca al-Qur’an, mengkhatamkan al-Qur’an, bahkan mengkaji al-Qur’an. Tradisi ini harus kita lanjutkan dan tingkatkan. Ada banyak hikmah dari tradisi membaca dan mengkaji al-Qur’an ini. Di antaranya derajat akan diangkat Allah (HR. Muslim), jiwa akan tenang (Qs. al-Isra’/17:82), mendapat syafaat di akhirat (HR. Muslim), mendapat pahala yang banyak, dan lain-lain.

Nabi SAW, memotivasi untuk memperbanyak membaca al-Qur’an sebagaimana Hadis, “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut. Satu kebaikan itu dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi no. 6469).

Menurut Imam Syafi’i, seperti dikutip Ibnu Arabi, jumlah huruf dalam al-Qur’an itu sebanyak 1.027.000 huruf. Artinya, 1 kali mengkhatamkan al-Qur’an saja, pahalanya setara dengan 1.027.000 dikalikan 10, yaitu 10.270.000 pahala.

Harapannya tentu bukan hanya membaca dan mengkhatam al-Qur’an, tapi juga mengkajinya. Dengan demikian umat Islam kembali kepada al-Qur’an. Dalam sejarah peradaban Islam, majunya umat Islam karena kembali kepada al-Qur’an. Sebaliknya, mundurnya peradaban umat Islam karena mereka meninggalkan al-Qur’an.

Ketiga, etos tarawih/shalat malam. Shalat malam di bulan Ramadhan sering disebut Shalat Tarawih. Shalat Tarawih ini dilakukan setelah shalat Isya dengan 11 rakaat (8 rakaat Tarawih: 4,4) dan Witir 3 rakaat (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah ibadah yang menjadi primadona umat Islam.

Sementara di luar bulan Ramadhan, shalat malam ini sering disebut Shalat Tahajud, Shalat Lail, atau Qiyamul Lail. Shalat Tahajud ini juga sejatinya menjadi primadona umat Islam (Qs. al-Isra’/7:79). Bahkan Nabi SAW. bersabda, “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam”. (HR Muslim).

Keempat, etos berbagi/solidaritas. Bulan Ramadhan adalah bulan berbagi. Bulan berzakat, berinfaq, dan bershadaqah (ZIS). ZIS ini adalah penolak bala, penyubur pahala, dan pelipatgandaan rezki (Qs. al-Baqarah/2:261).

Etos kepedulian sosial ini harus kita rawat dan tingkatkan. Apalagi semakin menganganya jurang kemiskinan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial. Ada orang kaya dengan kekayaan yang tak terhingga. Pada saat yang sama, terjadi pemerataan kemiskinan yang sangat memiriskan nurani. Dan, ini melanda komunitas terbanyak negeri ini.

Kelima, etos berjemaah. Selama Ramadhan semangat umat shalat berjamaah di masjid, mushalla, luar biasa. Apalagi setelah pandemi covid-19. Etos berjamaah dalam arti luas, membangun persatuan umat Islam. Apalagi kita akan memasuki tahun politik 2024. Persatuan bangsa ini kembali diuji. Oleh karena itu, etos berjemaah ini harus dirawat dan dilanjutkan.

Sekedar kabar gembira. Kita bersyukur, etos berjamaah ini menjadi fenomena global. Menurut laporan PRC (Pew Research Center) misalnya, pada 2070 umat Islam diprediksi akan menjadi mayoritas di dunia. Dalam laporan itu diprediksi di Rusia, 1 dari 5 orang Rusia adalah muslim. Di Australia (2048), jumlah muslim-non muslim akan berimbang.

Di Eropa, Prancis sekitar 8 juta penduduknya muslim. Belum lagi fenomena selebrasi sujud syukur M. Salah, pesebakbola Inggris asal Mesir, setiap kali mencetak gol. Bahkan beberapa lapangan bola terkenal di Jerman saat ini membangun masjid, mushala untuk pemain dan penontonnya. Dan banyak lagi fenomena yang menggembirakan.

Apa penyebab fenomena ini? Tentu banyak faktor pendukungnya. Di antaranya terkait soal perubahan cara pandang (world view) terhadap Islam. Kampanye tentang Islam moderat (washatiyatul Islam) atau Islam Berkemajuan (dinul khadharah) yang mengkampanyekan wajah Islam yang ramah dengan kemajuan, kemodernan, dan kemanusiaan universal telah berhasil mengubah cara pandang masyarakat global terhadap Islam.

Demikianlah janji Allah bahwa umat Islam adalah umat terbaik, kuntum khaira ummah (Qs.3:110). Khaira ummah, menurut Ibnu Katsir, maknanya kemuliaan Nabi. Meneladani kemuliaan dan keterbaikan Nabi itu menjadikan pengikutnya, umat Islam, menjadi umat terbaik. Salah satu kunci keterbaikan umat ini adalah keberanian melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Keenam, etos imsya’. Pemaknaan imsya’ ini tidak hanya pengendalian diri 10 menit menjelang Shalat Subuh seperti yang dipahami sementara orang. Tapi imsya’ ini adalah esensi puasa itu sendiri, pengendalian diri. Etos imsya’ melahirkan pribadi taqwa (tawadhu’, qana’ah, ihsan/wara’). Etos imsya’ akhirnya juga melahirkan etos kejujuran. Jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain, dan jujur pada Allah SWT.

Merawat dan melanjutkan etos kejujuran ini menjadi sangat relevan dan dibutuhkan. Apalagi etos kejujuran kini menjadi sangat mewah di negeri ini, di saat bangsa ini berjibaku memberantas perilaku korupsi.

Beberapa riset melaporkan bahwa Indonesia merupakan negara korup. Misalnya, Transparency International (TI) meluncurkan hasil Corruption Perception Index (Indeks Persepsi Korupsi/IPK) untuk tahun pengukuran 2022. Hasilnya Indonesia mengalami penurunan skor IPK 4 poin dari 38 pada 2021 menjadi 34, dan berada di peringkat 110 dari 180 negara yang disurvei. Skor IPK Indonesia masih jauh di bawah rata-rata negara di Asia Pasifik yaitu 45. Adapun jika dibandingkan negara di ASEAN, Indonesia menduduki peringkat 7 dari 11 negara, jauh di bawah sejumlah negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Salah satu kiat sukses melanjutkan etos imsya’ adalah mengaudit diri (muhasabah), apakah kita sudah menjadi pribadi yang “ihsan”. Ihsan sebagai kelompok manusia yang mampu menghadirkan keyakinan bahwa merasa selalu dilihat oleh Allah SWT. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi momentum untuk mencetak pribadi yang ihsan, yaitu pribadi yang selalu merasakan kehadiran Allah di manapun ia berada. (HR. Muslim).

Selain melakukan audit diri, kunci lainnya adalah konsistensi. Dari sekian banyak ragam ibadah yang menjadi tradisi kita selama Ramadhan, tentu sangat ideal kalau semua bisa kita lanjutkan. Tetapi kalau tidak bisa, Nabi SAW. memberi panduan, boleh memilih salah satu ibadah yang menjadi unggulan, primadona. Lakukan itu secara konsisten (HR. Muslim). Insya Allah kita dimudahkan-Nya merawat dan melanjutkan etos Ramadhan untuk Indonesia Berkemajuan. Wallahu A’lam.

Tambahnya etos puasa bukan kuantitas tetapi kualitas dengan puasa sunat dan tadabbur Alquran, menghidupkan qiyamu lail di luar Ramadhan, tingkat kepedulian dan ibadah lainnya


Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Minangkabaunews.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Related posts