MINANGKABAUNEWS.com, SIJUNJUNG — Suara gemericik air bercampur lumpur masih terdengar dari balik puluhan box talang yang berjejer di sepanjang aliran sungai. Namun, di balik hiruk-pikuk aktivitas penambangan emas ilegal di Batu Gando, Sijunjung, menyimpan cerita duka yang baru saja terjadi.
Selasa (19/5/2026), Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, turun langsung ke lokasi tambang tanpa izin (PETI) di Nagari Muaro. Didampingi Wakil Bupati Sijunjung dan jajaran OPD, ia menyaksikan sendiri bagaimana ratusan ponton mengapung di sungai, puluhan pekerja sibuk mengayak pasir, dan tak satu pun bisa menunjukkan surat izin.
“Kalau belum punya izin, segera urus. Pemerintah sudah siapkan Wilayah Pertambangan Rakyat,” tegas Mahyeldi di hadapan para penambang.
Namun, kunjungan itu tak sekadar inspeksi. Gubernur kemudian bergerak ke lokasi paling memilukan: Sintuk, Jorong Koto Guguk, Nagari Guguk. Di sinilah, Rabu (13/5/2026) lalu, tanah longsor tiba-tiba menimbun sembilan orang yang sedang bekerja. Tak lama setelah itu, banjir bandang menghanyutkan puluhan ponton peralatan tambang.
Sembilan nyawa melayang. Salah satunya Madi (24), pemuda yang baru memulai hidup.
Di rumah duka Madi, warga Jorong Koto, Nagari Padang Laweh, Mahyeldi terdiam sejenak. “Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Jangan cari nafkah dengan mengorbankan nyawa,” ucapnya lirih di depan keluarga yang masih terisak.
Pesan itu menggema: izin bukan sekadar formalitas, tapi soal hidup dan mati. Pemerintah mendorong Izin Pertambangan Rakyat (IPR) agar warga tetap bisa bekerja, tapi aman dan legal. Karena di balik kilau emas, ada tanah yang rapuh, sungai yang murka, dan keluarga yang menangis.






