MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suasana berbeda terasa di Aula Politeknik ‘Aisyiyah Sumatra Barat pada Rabu pagi. Bukan sekadar seremonial biasa, peringatan Milad ‘Aisyiyah ke-109 yang digagas oleh UKM Kerohanian kampus itu berubah menjadi lautan semangat dan refleksi mendalam. Ratusan mahasiswi dan warga kampus yang mengenakan batik tampak antusias memadati aula sejak pukul 07.45 WIB. Ada yang sibuk menata kerudung, ada pula yang asyik membaca buku saku—menunggu momen penting yang akan membuka mata mereka tentang hakikat sejati seorang perempuan.
Tahun ini, panitia mengusung tema yang tak biasa: “Hakikat Seorang Perempuan”. Bukan sekadar kata-kata indah, tema ini seolah menjadi tamparan halus bagi stereotip yang selama ini membelenggu. Seorang perempuan bukan hanya tentang kelembutan, bukan pula tentang kecantikan fisik semata. Lebih dari itu, perempuan adalah tentang ilmu, akhlak, perjuangan, dan cahaya yang membawa perubahan bagi umat dan bangsa.
Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Wakil Direktur Politeknik ‘Aisyiyah Sumatra Barat, Ibu Mandria Yundelfa, S.ST., M.Keb. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk tidak sekadar mendengar, tetapi menyerap setiap pesan yang akan disampaikan.
“Perempuan hari ini adalah arsitek peradaban. Jangan biarkan dunia merumuskan siapa kita. Rumuskan sendiri dengan ilmu dan akhlak,” ujarnya dengan mata berbinar.
Namun, puncak acara benar-benar mencapai intensitasnya saat Salma, Sekretaris Umum PW IPM Sumatera Barat, naik ke mimbar. Wanita muda dengan segudang pengalaman organisasi itu langsung menyapa dengan gaya khasnya yang lugas namun menyentuh. Tanpa basa-basi, ia melontarkan pertanyaan yang menggantung di udara: “Apa yang paling berharga dari seorang perempuan?”
Sejenak hening. Lalu Salma menjawab sendiri, “Bukan parasnya, bukan pula suaranya yang merdu. Tapi pikirannya yang terang dan hatinya yang bersih. Perempuan yang berilmu akan memimpin rumah tangganya dengan bijak. Perempuan yang berakhlak akan menjadi madrasah pertama bagi generasi emas. Dan perempuan yang berjuang, dialah yang menggerakkan roda perubahan.”
Lebih dari satu jam Salma bercerita tentang sejarah ‘Aisyiyah, tentang perempuan-perempuan hebat yang tidak hanya diam di dapur, tetapi turun ke medan pendidikan, kesehatan, bahkan politik kebangsaan. Ia juga menyoroti bagaimana anak muda zaman now sering terjebak dalam standar kecantikan semu dari media sosial. “Jangan biarkan algoritma menentukan nilai kalian. Milad ‘Aisyiyah ke-109 ini mengingatkan kita: kembalilah pada hakikat. Perempuan tangguh bukan karena air matanya kering, tapi karena ia tetap berdiri meski badai menerjang.”
Di sela-sela sesi tanya jawab, seorang mahasiswi semester akhir, Rahma, mengaku tergetar. “Selama ini saya merasa rendah diri karena tak secantik teman-teman di medsos. Tapi sekarang saya paham, kecantikan sejati adalah saat saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Terima kasih, UKM Kerohanian, sudah menghadirkan narasumber yang membuka hati kami.”
Acara yang berlangsung hingga pukul 10.00 WIB itu ditutup dengan doa. Namun, yang lebih berharga dari sekadar hadiah adalah perubahan paradigma yang mulai tertanam. Beberapa mahasiswi terlihat masih asyik berdiskusi di sudut aula, ada pula yang langsung mencatat renungan di buku harian mereka.
Peringatan Milad ‘Aisyiyah kali ini bukan hanya seremoni tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa perempuan—dengan segala kompleksitasnya—adalah pusat peradaban. Dan saat para perempuan sadar akan hakikat dirinya, maka bangsa ini akan bangkit dari tidurnya.






